Bilingualisme dan Diglosia
· Bilingualisme/dwi bahasa :
kemampuan individu menguasai dua bahasa. Misalnya: joko dapat berbahasa jawa dan juga menguasai bahasa Indonesia.
Jika seseorang melakukan ujaran campur kode berarti orang tersebut melakukan bilingualisme atau sudah berdwi bahasa.
· Diglosia :
Situasi bahasa yang terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa yang ada dalam masyarakat. Diglosia menitik beratkan pada logat/dialeg ciri khas suatu daerah.
Bahasa yang digunakan sudah bercampur dengan variasi bahasa suatu daerah. Misalnya : dialeg, variasi yang lebih dimunculkan. Contoh dioglosia dalam bahasa jawa : go, re, to, tah, leh, dsb
· Hubungan bilingualisme dan diglosia :
Kemampuan menguasai dua bahasa kemudian disisipi oleh diglosia.
Misalnya: Percampuran bahasa indonesia + bahasa jawa + diglosia.
1. Kamu mau bayar utang kapan to?
2. Jangan nesu-nesu gitu to ya!
· Bilingualisme tanpa diglosia:
Percampuran/ penggunaan dua bahasa tanpa ditambai diglosa. Bisa terjadi ketika seseorang bercampur kode, bahasa Indonesia disisipi bahasa jawa.
Misalnya :
1. Kapan kamu bayar utang?
2. Bagaimana bisa kamu dapat duit?
· Diglosia tanpa bilingualisme:
Tanpa penggunaan dua bahasa tapi menggunakan diglosia. Bahasa jawa disisipi diglosa atau bahasa indonesia di sisipi diglosa.
Misalnya :
1. Wes go ojo nanges. (bahasa jawa yang disisipi diglosa go,ciri khas kota pati)
2. Jangan begitu to. (bahasa Indonesia + diglosa to)
· Tanpa bilingualisme tanpa diglosia :
Hanya menggunakan satu bahasa. Hanya menggunakan bahasa indonesia saja atau bahasa jawa saja.
Misalnya :
1. Joko sedang membaca novel di kamar.
2. Aku ora seneng maca novel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar